Jumat, 01 Juni 2012

Pengkhianatan Syiah Kufah, Terbunuhnya Imam Husein dan Peringatan Hari Asyura


Berawal dari keingintahuan salah satu teman, sodara (teileeee.. sodara :D) Sengkiq Isme mengenai hari Asyura sbg peringatan terbunuhnya imam Al-Husein beserta keluarga dan kaum muslim di Padang Karbala. Orang Syiah Rafidhah melakukan ritual disetiap hari Asyura dengan cara memukuli-mukuli diri baik dg tangan maupun benda tajam, merobek-robek baju, meratap dengan mencakar-cakar atau menjambak-jambak rambut mereka sepanjang jalan menuju padang Karbala.

Banyak orang-orang pada umumnya menganggap tradisi ini adalah tradisi orang-orang smua orang Syi'ah yang terkenal sebagai kelompok pecinta Ahlul Bayt. Akan tetapi, sekali lagi, anggapan tersebut adalah generalisasi saudara-saudara. Sama seperti orang menggeneralisasi orang Minang itu adalah orang padang (Minang itu nama suku, Padang itu nama ibukota di Sumatera Barat. Dan asal usul orang Padang sebenarnya bukanlah orang Minang. tapi orang pesisir). Intinya, manusia begitu mudah menggeneralisasi suatu hal yang dikarenakan kekurangtahuannya, gampang mengambil kesimpulan atau dikarenakan trauma terhadap suatu hal (sama seperti cewek yang patah hati dengan cowoknya atau cowok yang patah hati dengan ceweknya, langsung aja menggeneralisir pasangan mereka dengan perkataan, "huh! semua cowok/cewek memang sama aja.")

Kembali ke cerita. Jadi, Syi'ah itu terbagi menjadi 22 golongan (sama seperti Sunni yang juga terbagi menjadi beberapa golongan. Ada Sunni Selanjutnya golongan Sunni terpecah lagi menjadi 4 mazhab, yaitu : Maliki, Syafi'i, Hanafi dan Hanbali. Dan di Indonesia sendiri yang memakai madzhab Syafi'i ini, terpecah lagi menjadi NU dan Muhammadiyah. Dan setiap madzhab pasti mengalami terpecah-pecah menjadi beberapa golongan. Akan tetapi golongan-golongan ini ada yang masih tetap sejalan dengan syariat yang telah ditetapkan oleh Allah dengan berpegang atas Al-Quran dan hadist tetapi ada juga golongan-golongan dari madzhab ini yang menyimpang dari syariat islam beserta rukun islam dan rukun iman bahkan ada pula yang ingkar terhadap Quran dan hadist yang shahih.

Pada perkembangannya, kaum Syiah terbagi menjadi 22 golongan (silahkan lihat tentang Syi'ah dan golongan Syiah yang ada disini http://kucingtengil.blogspot.com/2012/03/syiah-kedudukan-mereka-di-dalam-islam.html). Salah satu dari golongan tersebut adalah Syi'ah Rafidhah. Dan Syi'ah golongan inilah yang mempunyai tradisi memukul-mukul diri mereka atau menyakiti diri mereka baik dengan tangan maupun dengan pedang. Alasannya, agar mereka merasakan penderitaan Imam Husein dan keluarga dan umat muslim yang dibantai di Padang Karbala.

AKAN TETAPI... ada satu hal yang mungkin sedikit diketahui oleh ummat islam termasuk dari kaum Syiah sendiri. Bahwa, kaum Syi'ah Rafidhah melakukan ritual tersebut berasal kebiasaan kaum syi'ah Kufah (yang mungkin sebagai cikal bakal kaum syiah Rafidhah), sebagai bentuk penyesalan dan tanda tobat mereka karena tindakan pengkhianatan mereka terhadap Imam Husein.

1. Pengangkatan Yazidz bin Muawiyah menjadi Kalifah Pengganti Muawiyah bin Abu Sufyan

Yazidz adalah anak dari Muawiyah yang ia angkat sebagai khalifah pengganti dirinya. Pengangkatan Yazidz secara sepihak oleh Muawiyah, berarti telah melanggar peraturan yang telah ditetapkan oleh Dewan Syura (sama dg MPR kita) yang dibentuk dijaman khalifah Umar bin Khattab, yang menetapkan hukum syura, pemilihan menurut hasil permusyawaratan terbanyak dan khalifah yang terpilih dari hasil suara terbanyak ini akan dikukuhkan oleh Majlis Permusyawaratan Ummat Islam (sama dg DPR kita) dan jika khalifah tersebut berakhir masa kepemimpinannya, maka ia harus menyerahkan kembali pangkat kekhalifahan tersebut ke tangan Dewan Syura yang nanti akan mengadakan pemilihan khalifah baru berdasarkan suara ummat. Sistem ini yang berlaku sejak di zaman al-Khulafaurrasyidin, akan tetapi dewan ditugaskan untuk mengemban tugas tersebut baru terbentuk di jaman kekhalifahan Umar. Sistem tersebut menyerupai aturan pemerintahan Republik (jumhuriyyah) di zaman kita ini. Akan tetapi, ditangan Muawiyah pangkat Khalifah menjadi pusaka turun-temurun, maka daulat Islam pun berubah sifatnya menjadi daulat yang bersifat kerajaan (monarchie).

Pada tahun 56 H. (676 M.) Mu’awiyah mengangkat puteranya Yazid menjadi putera Mahkota yang akan langsung menggantikan dirinya kalau ia mati. Dengan perbuatannya ini berarti Mu’awiyah telah merubah undang-undang khilafah yang semula dipilih oleh Majlis Permusyawaratan Ummat Islam menjadi turun temurun. Dan diapun telah melanggar janjinya dengan Hasan bin Ali, yaitu janji yang telah diikrarkannya, bahwa pangkat Khalifah sepeninggalnya diserahkan kembali kepada Permusyawaratan Ummat Islam

Akan tetapi, tentu saja cara Muawiyah tersebut tidak diterima oleh beberapa petinggi-petinggi dan ummat islam lainnya. Walau diantara mereka adalah pendukung Muawiyah, akan tetapi banyak diantara mereka tidak menyukai Yazidz. Walaupun Muawiyah mendapatkan kekuasaan dengan cara taktik yang kurang terpuji (dengan makar terhadap Ali dikala Ali menjadi khalifah yang sah, berusaha membunuh Hasan dengan racun melalui perantara istri Hasan karena dikala itu Hasan banyak mendapat dukungan dari ummat dan menjadi saingan terberat Muawiyah), akan tetapi, Muawiyah mempunyai sikap terpuji lainnya seperti adil terhadap ummat, menjaga ketenangan dan ketentraman ummat baik dari dalam maupun dari luar, memperluas kekuasaan islam, dan lainnya. Sedangkan Yazidz, dikenal bukanlah seorang yang ahli untuk menduduki kursi Kholifah seperti ayahnya, karena ia dinilai mempunyai tabi’at yang kurang baik untuk menjadi pemimpin seperti ayahnya. Oleh karena itu pemerintahannya tidak disukai oleh para sahabat besar dan terutama, Husein bin Ali dan Abdullah bin Zubair.

2. Pengkhianatan Syi'ah di Kufah Terhadap Ali bin Abi Thalib dan Hasan Bin Ali

Kufah, adalah salah satu daerah yang terdapat di Iraq. Para pendukung Ali adalah dari kelompok Syiah. Dan kelompok Syiah sebagian besar pendukung berasal dari Iraq terutama penduduk Syiah di Kufah dan penduduk Syiah di Bashrah.

Penduduk Syiah Kufa, walaupun mereka menyatakan diri sebagai pecinta ahlul bayt, akan tetapi sikap dan perbuatan mereka bertolak belakang dengan ucapan mereka (munafik). Hal ini sudah berkali-kali dibuktikan sikap munafik mereka ketika Ali pergi berperang bersama mereka ke Syam, setelah berhasil meredam fitnah Kaum Khawarij (salah satu sekte pecahan syiah Ali sendiri yang malah mengkafirkan Ali bin Abi Thalib), para Syiah Kufah malah meninggalkan beliau dan kaum Syiah lainnya yang sudah berkumpul berperang bersama Ali. padahal sebelumnya mereka telah berjanji untuk membantunya dan pergi bersamanya.

Selain itu, ketika Al Hasan Radhiyallahu anhu dibaiat menjadi khalifah, para penduduk Syiah di Kufah meminta Al Hasan untuk memerangi Muawiyah dan penduduk Syam karena mereka berkali-kali diserang oleh Muawiyah. Padahal waktu itu Al Hasan berkeinginan menyatukan kaum muslimin saat itu, karena beliau faham sekali tentang kelakuan orang-orang syiah di Iraq terutama di Kufah ini yang munafik dan tidak bisa menempati janji kepada ayahnya. Akan tetapi sebagai khalifah, beliau berusaha adil. Ketika beliau menyetujui mereka (orang-orang syiah di Iraq) dan beliau mengirimkan pasukannya serta mengirim Qais bin Ubadah di bagian terdepan untuk memimpin dua belas ribu tentaranya, dan singgah di Maskan, ketika Al Hasan sedang berada di Al Mada’in tiba-tiba salah seorang penduduk Iraq berteriak bahwa Qais telah terbunuh.

Mulailah terjadi kekacauan di dalam pasukan, para maka orang-orang syiah Kufah kembali para tabiat mereka yang asli (berkhianat), mereka tidak sabar dan mulai menyerang kemah Al Hasan serta merampas barang-barangnya, bahkan mereka sampai melepas karpet yang ada dibawahnya, mereka menikamnya dan melukainya. Dari sinilah salah seorang penduduk Syiah Iraq, Mukhtar bin Abi Ubaid Ats Tsaqafi merencanakan sesuatu yang jahat, yaitu mengikat Al Hasan bin Ali dan menyerahkan kepadanya, karena ketamakannya dalam harta dan kedudukan. Pamannya yang bernama Sa’ad bin Mas’ud Ats Tsaqafi datang, dia adalah salah seorang wali dari Mada’in dari kelompok Ali. Dia (Mukhtar bin Abi Ubaid) bertanya kepadanya, “Apakah engkau menginginkan harta dan kedudukan?
Sa'ad berkata, “Apakah itu?”
Mas'ud Menjawab,”Al Hasan kamu ikat lalu kamu serahkan kepada Muawiyah”
Kemudian pamannya berkata “ Allah akan melaknatmu, "
Anak putrinya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, ia memperhatikannya lalu mengatakan, "kamu adalah sejelek-jelek manusia”

Maka Al Hasan radhiyallahu anhu sendiri berkata “Aku Memandang Muawiyah lebih baik terhadapku dibanding orang-orang yang mengaku mendukungku (Syiahku), mereka malah ingin membunuhku, mengambil hartaku, demi Allah saya dapat meminta dari Muawiyah untuk menjaga keluargaku dan melindungi keselamatan seluruh keluargaku, dan semua itu lebih baik daripada mereka membunuhku sehingga keluarga dan keturunanku menjadi punah. Demi Allah, jikalau aku berperang dengan Muawiyah niscaya mereka akan menyeret leherku dan menganjurkan untuk berdamai, demi Allah aku tetap mulia dengan melakukan perdamaian dengan Muawiyah dan itu lebih baik dibanding ia memerangiku dan aku menjadi tahanannya”

Akhirnya Hasan bin Ali memutuskan utk berdamai dgn Muawiyah dan menyerahkan tampuk kekuasaan Khalifah kepadanya demi utk menghindarkan jurang perpecahan yg lbh dalam lagi dikalangan umat Islam antara pendukung Ahlul bayt dengan pendukung Muawiyah, dgn beberapa persyaratan perjanjian. Beberapa isi dari perjanjian itu adalah

"Pemerintahan Muawiyah akan menjalankan pemerintahan berdasarkan kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya menjaga persatuan umat menyejahterakannya melindungi kepentingannya tidak membalas dendam kepada anak-anak yg orang tuanya gugur didalam berperang dgn Muawiyah juga tidak mengganggu seluruh keluarga Nabi Muhammad Saw baik secara terang-terangan maupun tersembunyi dan menghentikan caci maki terhadap para Ahli Bait ini serta tidak mempergunakan gelar “Amirul Mukminin” sebagaimana pernah disandang oleh Khalifah Abu Bakar, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abu Thalib."

Muawiyah menyetujuinya. Akan tetapi selang beberapa saat sesudah Muawiyah diakui sebagai Khalifah dia mulai melanggar isi perjanjian tersebut dengan melakukan usaha pembunuhan terhadap Hasan dengan racun melalui isteri Hasan yang bernama Ja'dah binti Asy’ats bin Qais al-Kindî, dan Mu'wiyah yang memerintahkan kepadanya, dan bila ia berhasil membunuh Hasan ia akan dapat 100.000 dirham dan akan mengawinkannya dengan Yazidz.

Tatkala Hasan meninggal, ia mengirim uang tersebut dengan surat: ‘Sesungguhnya kami mencintai nyawa Yazîd, kalau tidak maka tentu akan kami penuhi janji dan mengawinkan engkau dengannya’. {Mas’ûdî, Murûj adz-Dzahab, jilid 2, hlm. 50}

Dan pelanggaran lainnya dilakukan oleh Muawiyah adalah mengangkat putranya Yazidz sebagai putra mahkota setelah Hasan meninggal. telah merubah undang-undang khilafah yang semula dipilih oleh Majlis Permusyawaratan Ummat Islam menjadi anarki (dinasti) sehingga fungsi Dewan Syuro pun dihapuskan.

Atas perdamaian yang dilakukan Al Hasan dan Muawiyah, maka membuat Syiah Kufah membenci terhadap Al Hasan bahkan keturunannya.Alasannya adalah karena Al Hasan berdamai dengan Muawiyah dan menyatukan kaum muslimin saat itu, sehingga tercelalah keturunannya dan tidak layaklah mereka menjadi imam mereka, itulah hakikat tabiat sejati seorang penghianat yang tidak pernah menginginkan perdaimaian dan persatuan diantara kaum muslimin. namun mereka berusaha menutup-nutupinya. Maka mereka (Syiah berasal dari kufah membuat pecahan Syiah bernama syiah rafidhoh imamiyah) mengeluarkan keturunan Al Hasan dari silsilah para Imam ma’shum versi mereka yang mereka mengangkat Imam-Imam mereka itu bahkan kedudukan para imam mereka diatas kedudukan para Nabi dan malaikat terdekat dengan Allah (tulisan Khumaini dalam, al hukumah islamiyah hal 52), walaupun demikian agar tidak terbongkar kebencian mereka ini mereka tetap mencantumkan Al Hasan dalam deretan Imam mereka.

3. Perburuan Yazidz Terhadap Al Husein, Pengkhianatan Syiah Kufah dan Peristiwa Karbala

Hasan meninggal dunia sebelum Mu’awiyah meninggal. Maka ketika itu Mu’awiyah memberikan kekhalifahan kepada anaknya, Yazid. Tatkala Mu’awiyah meninggal, maka Yazid memegang perintah, dan Husain enggan memba’iatnya.

Yazid memerintahkan gubernur Madinah agar mengambil baiat dari Imam Husein untuknya dan bila membangkang, maka Imam Husein harus dibunuh. Gubernur Madinah menyampaikan perintah Yazid kepada Imam Husein as, dan Imam Husein meminta waktu semalam untuk mempertimbangkan persoalan tersebut, namun lantaran baiat dengan Yazid dan mensetujui khilafahnya dipandang oleh Imam Husein adalah tidak menguntungkan Islam dan jiwanya terancam, beliau terpaksa meninggalkan Madinah menuju Mekkah dan tinggal di Mekkah yang merupakan tempat yang relatif aman sebagai rumah Allah, dan pada tanggal 3 Sya'ban, beliau tiba di mekkah.

Berita sampainya Imam Husin di Makkah ini tersebar ke berbagai daerah. Masyarakat Irak yang tidak setuju dan tidak puas dengan pemerintahan Muawiyah dan Yazid, terutama penduduk Kufah menulis banyak surat kepada Imam Husein dan mengundang beliau ke Irak. Mereka menyatakan dukungan terhadap Husein dan ketidaksukaan mereka terhadap peemrintahan Umayah dan yazid. Para penduduk Kufah ini meminta agar Imam Husein datang ke Kufah untuk di bai’at sebagai khalifah.

Meskipun surat yang dikirim dari Kufah tidak ada henti-hentinya, namun Imam Husin tetap tidak mau pergi ke Kufah. Sebab beliau masih ingat betul pengkhianatan yang dilakukan orang-orang Kufah terhadap ayahnya dan saudaranya, Hasan.

Setelah melalui berbagai surat gagal, maka orang-orang Kufah tersebut mengutus beberapa orang guna menemui Imam Husin, meminta agar Imam Husin mau datang ke Kufah untuk dibai’at sebagai khalifah. Sebagai orang yang arif lagi bijaksana, walaupun sudah berkali-kali dikhianati oleh orang-orang yang mengaku sebagai Syi’ahnya Ahlul Bait, beliau akhirnya mengutus Muslim bin Agil (sepupunya) ke Kufah guna membuktikan apa yang sudah mereka sampaikan.

Sesampainya Muslim bin Agil di Kufah, puluhan ribu penduduk Kufah menyambutnya serta membai’atnya sebagai wakil Imam Husin. Muslim bin Agil segera mengirim surat kepada Imam Husin memberitahukan mengenai keadaan dan apa yang terjadi di Kufah, serta mengharap agar Imam Husin segera berangkat ke Kufah. Setelah menerima surat tersebut, Imam Husin segera memutuskan untuk segera pergi ke Kufah dan rencana tersebut beliau sampaikan kepada famili-familinya serta sahabat-sahabatnya dan banyak para sahabat yang melarang Husein untuk pergi ke Kufah. Di antara mereka adalah Ibnu Umar, Abdulloh bin Ja’far dan lainnya. Bahkan Abdulloh bin Umar terus mendesak kepada Husain agar tetap tinggal di Mekkah dan tidak keluar.

Abdullah bin Abbas (sepupu Imam Ali) begitu mendengar rencana Imam Husin tersebut segera mendatangi Imam Husin dan menasehati agar Imam Husin menggagalkan rencananya. Sebab Ibnu Abbas tahu benar watak orang-orang yang selalu mengaku sebagai Syi’ahnya Ahlul Bait tersebut. Namun dengan dilandasi baik sangka, Husain menyelisihi permusyawarahan mereka dan keluar, lalu Ibnu Umar berkata kepadanya, “Aku menitipkanmu kepada Alloh dari pembunuhan!"

Begitu Husain Radhiyallahu ‘anhu keluar, ia menemui Farozdaq di jalan yang berkata kepadanya, “Berhati-hatilah engkau, mereka bersamamu namun pedang-pedang mereka bersama Bani Umayyah. Mereka adalah Syi’ah yang mengirim surat kepadamu, dan mereka menginginkanmu untuk keluar (ke tempat mereka), tetapi hati-hati mereka tidak bersamamu. Secara hakiki mereka mencintaimu, akan tetapi pedang-pedang mereka terhunus bersama Bani Umayyah!”

Dengan harapan dapat menyelamatkan Negara dari orang-orang yang tidak layak memimpin negara, maka Imam Husin terpaksa menolak nasihat para sahabat dan keluarganya yang lain dan tetap berangkat ke Kufah beserta keluarga dan beberapa kaum muslimin lainnya (bbrp org dr kelompok Syiah dan kaum Anshar).

Namun apa yang terjadi di Kufah?

Muslim bin Agil akhirnya ditangkap dan dibunuh oleh Gubernur Kufah (Ubaidillah bin Ziyad). Sedang orang-orang Kufah yang telah menyatakan dirinya sebagai Syi’ahnya Imam Husin dan telah membai’at Muslim bin Agil sebagai wakil Imam Husin tersebut, telah berkhianat. Mereka berubah haluan, mereka terpengaruh oleh bujukan dan rayuan Ubaidillah bin Ziyad dan berbalik menjadi pengikut Yazid. Bahkan mereka menjadi tentara yang dikirim oleh Ubaidillah bin Ziyad waktu menyerang dan membunuh Imam Husin beserta keluarganya di Karbala.

Pasukan Yazid bersama pasukan Syiah Kufah telah mengepung Imam Husein dan pasukannya di sebuah negeri bernama Karbala dan mereka tidak mengijinkan Imam Husein as dan para sahabatnya melanjutkan perjalanan ke Kufah. Kemudian datanglah intruksi dari Yazid , bahwa apabila Husein menyerah, maka ambillah baiat darinya dan kirim dia ke sisiku, agar aku ambil keputusan tentangnya , namun bila ia tidak mau menyerah, maka perangilah."

Imam Husein tidak menyerahkan dirinya kepada kehinaan dan tidak bersedia kompromi dengan pemerintahan tirani Yazid dan beliau memilih berperang dengan pasukannnya yang sangat kecil dan sedikit jumlahnya dan bertahan di hadapan pasukan Yazid yang begitu banyak jumlahnya. Dan dengan penuh keberanian dan keperkasaaan, beliau dan para keluarga serta sahabatnya berperang dan membunuh sejumlah musuh. Akhirnya, beliau sendiri beserta keluarga (kecuali Ali Zainal yang kala itu ditinggal didalam tenda karena sakit bersama bibinya, siti Zainab) dan para sahabatnya menemui syahadah dan pada tanggal sepuluh 10 Muharram tahun 61 Hijriyah, beliau terbunuh dan badannya dimakamkan di Karbala sedangkan kepalanya dibawa kehadapan Yazidz dan sempat menjadi bulan-bulan oleh Yazid dan membuat pedih hati sahabat rasul yang sudah tua dan hadir disaat Yazidz menghina kepala Imam Husein. Lalu kepala Imam Husein dibawa berkeliling untuk dipamerkan kepada rakyat sebagai contoh agar tidak membangkang. Dan pada akhirnya, setelah berpindah-pindah tempat beberapa puluhan tahun, kepala Imam Husein dipindahkan ke Mesir. Dan kabarnya, tempat kepala Imam Husein dikuburkan didirikan Masjid Husein di Mesir. Imam Husein as hiudp di dunia selama 58 tahun.

Begitulah asal mula terjadinya peristiwa Karbala. Satu-satunya anak laki-laki Sayyidina Husin yang tidak mati dan selamat dari kekejaman orang-orang Syi’ah tersebut adalah Sayyidina Ali Zainal Abidin yang dilindungi oleh bibinya Siti Zainab, putri Rasulullah yang dikala itu menjaga Imam Ali Zainal yang masih kecil, sehingga tidak ada kelompok dari Yazidz menyentuh Imam Ali yang berada didekapan bibi beliau. Sedangkan saudara-saudara dari Imam Ali Zainal tewas bersama Ayahandanya, Imam Husein bersama kaum Anshor dan kelompok Syiah lainnya yang setia mendampingi Ali.

Seorang ahli sejarah (tokoh Syi’ah) yang dikenal dengan sebutan AL Ya’Quubi, menerangkan dalam kitabnya sebagai berikut : Ketika Imam Ali Zainal Abidin memasuki kota kufah, beliau melihat orang-orang Syi’ah kufah menangis, beliaupun berkata kepada mereka: “ Kalian membunuhnya tetapi kalian menangisinya. Kalianlah yang membunuhnya, lalu siapa yang membunuhnya kalau bukan kalian ? Kalianlah yang membunuhnnya.” Itulah keterangan ulama Syi’ah, mengenai kata-kata Imam Ali Zainal Abidin dalam menanggapi tangisan orang-orang Syi’ah, atas terbunuhnya keluarga Rasulullah saw di Karbala.

4. Alasan Tangisan Syiah Rafdihah Atas Peristiwa Karbala

Selang berlalunya waktu, generasi yang datang belakangan tidak pernah memahami sebab utama ritual ini dan mengira bahwa ritual ini hanya bertujuan untuk mengungkapkan kesedihan atas kejadian yang menimpa Husein bin Ali dan ahlul bait seperti yang didengungkan oleh para ulama. Sementara itu generasi belakangan tetap meyakini bahwa ritual ini untuk mencara pahala dengan rasa cinta kepada Husein bin Ali dan mereka lupa bahwa sebenarnya ritual ini diadakan sebagai hukuman kepada diri mereka sendiri yang telah menkhianati Husein bin Ali

Tetapi bagi kalangan sejarah yang mengetahui pengkhianatan yang dilakukan oleh Syiah Kufah (syiah rafidhah) yang karena perbuatan merekalah Imam Husein terbunuh di Karbala setelah mereka sendiri yang meminta pertolongan dan dukungan kepada Imam Husein dengan mengundang beliau ke Kufah untuk di baiat tetapi kemudian berkhianat.

Mereka (syiah Rafidhah) terus bergumam, bahwa mereka tidak pernah bermaksud untuk membunuh Imam Husein dan keluarganya. Sebagai penyesalan atas pengkhianatan mereka, mereka berusaha menebusnya dengan ritual menyiksa diri mereka sebagai hukuman kepada diri mereka sendiri yang telah menkhianati Husein bin Ali. Mereka menebus dosa mereka dengan hukuman di dunia, dan berharap di akherat Allah tidak akan menghukum mereka dengan hukuman yang lebih berat.

Entah bagaimana mereka mengubah ritual ini dari hukuman berubah maknanya sehingga menjadi ibadah yang berpahala dan bahkan mensucikan Padang Karbala. Bahkan mereka mengatakan mengunjungi Padang Karbala lebih utama dan lebih besar pahalanya daripada melakukan ibadah haji di Makkah

Pendapat di atas dikuatkan oleh perkataan Zainab binti Ali yang ditujukan kepada mereka : “Wahai penduduk kufah, wahai para pengkhianat, perumpamaan kalian adalah bagaikan seorang perempuan yang mengurai benang yang sudah dipintal. Kalian hanya mempunyai kesombongan, kejahatan, kebencian dan kedustaan. Apakah kalian menangisi saudaraku? Tentu, demi Allah, maka perbanyaklah tangis dan jangan banyak tertawa, sungguh kalian telah diuji dengan kehinaan..bagaimana kalian menganggap enteng membunuh menantu nabi terakhir?"

Selain itu, dengan perbuatan ratapan dan menyakiti diri mereka atas kematian Al Husein, sudah melanggar larangan Allah, tentang diharamkannya perbuatan meratapi kemalangan, musibah dan kematian dengan cara berlebihan (memukul diri, menjerit, mencakar dll)

Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu ia berkata, telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam, “Tidak termasuk golongan kami orang yang memukul-mukul muka, merobek-robek baju dan berteriak-teriak seperti orang-orang jahiliyah .” (HR. Bukhari dan Muslim).

 Dari Abu Musa Al-Asy’ary radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda, “Ada empat perkara diantara perkara jahiliyah terdapat di tengah umatku; berbangga dengan kesukuan, mencela ketuturunan (orang lain), meminta hujan dengan bintang-bintang dan meratapi mayat. Dan beliau bersabda, “Wanita yang meratapi mayat apabila tidak bertaubat sebelium meninggal. Ia akan dibangkit pada hari kiamat dengan memakai mantel dari tembaga panas dan jaket dari penyakit kusta.” 

Pelanggaran lainnya dilakukan oleh mereka adalah, mereka mencela dan menghina para sahabat nabi didalam perayaan Ashura sebagai bentuk dukungan dan kecintaan mereka terhadap Ahlul Bayt. Hal ini sendiri sudah melanggar dari apa yang disabdakan oleh Rasul

Dari Abu Sa’iid Al-Khudri bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda, “Jangan kalian mencela para sahabatku. Seandainya salah seorang kalian mengimfaqkan emas sebesar gunung Uhud, niscaya tidak akan sampai (nilainya) segegam (pahalanya) salah seorang mereka dan tidak pula separohnya"



Sumber

http://blog.re.or.id/analisa-syiah-sunni.htm
http://aslibumiayu.wordpress.com/2011/12/05/syiah-rafidhah-kesesatan-pesta-duka-hari-asyuraa/
http://esq-news.com/2009/03/10/77/muawiyyah-bin-abu-sufyan-khalifah-pertama-dinasti-umayyah.html
http://saidaneffendi-darussalam.blogspot.com/2011/07/pengkhianatan-syiah-terhadap-ahlu-bait.html
http://www.alhassanain.com/indonesian/book/book/beliefs_library/fundamentals_of_Religion/general_books/semua_perlu_tahu/010.html
http://yayasan-aljawad.blogspot.com/2011/01/terbunuhnya-imam-hasan-bin-ali-bin-abi.html
http://aslibumiayu.wordpress.com/2011/12/05/ritual-asyura-orang-orang-syiah-rafidhah-yang-mengaku-sebagai-ahlul-bait-kok-seperti-ini-ya/

Jumat, 18 Mei 2012

Hantu Kepala Terbang di Berbagai Negara dan Daerah

Gara2 liat mitologi 7 hantu wanita di trans 7 tadi, ada 2 negara mengangkat ttg hantu wanita kepala terbang salah satunya adalah hantu kepala Penanggal di Malaysia


Ternyata mitologi hantu kepala terbang ini terdapat dihampir semua negara Asia. Yang anehnya, banyak terdapat kemiripan satu sama lainnya. Untuk negara lain ttg hantu kepala terbang ini: Manananggal atau wakwak di Filipina, Phi Graseu/ Kra sui di Thailand, BrahmarākŞhasa di India, Leak di Bali, Palasik di Sumatera Barat. Dan di daerah Indonesia lainnya ternyata mengenal hantu sejenis (ya elah... sejenis) dengan nama yang berbeda. Seperti Antu Anton (kenapa mesti anton? kenapa ga erick atau jack?). Di Sulawesi dengan nama Poppo, di Manado dengan pok pok, Kuyang di Kalimantan.

Di Jepang, hantu kepala ini ada dua jenis. Yaitu Rokuro Kubi dan Nuke Kubi (apa ada hubungannya dengan kubi-kubi di Naruto ya :-?)

Rokuro kubi, yang berleher panjang dan mampu memanjangkan lehernya sepanjang jalan kenangan (tsaaahhhh) tetapi kepalanya tidak terpisah dengan badannya, dan Nuke kubi, hantu wanita yang bisa melepaskan kepala dari tubuhnya. Satu-satunya ciri nukekubi adalah adanya garis merah di lehernya yang merupakan tempat terlepasnya kepalanya, dan nukekubi sering menyembunyikan tanda ini.

Rukero Kubi
Nuke Kubi


Persamaan dari hantu kepala tsb

1. Mereka berwujud manusia biasa, dan hidup spt manusia biasa di siang hari. tapi di malam hari mereka berubah jadi hantu dengan kepala terbang meninggalkan badan untuk mencari mangsa. Ada juga beberapa hantu kepala ini seperti Leak, bisa mengubah dirinya (kepalanya) menjadi hewan atau bola api.

 2. Kebanyakan, asal muasal hantu kepala terbang ini bukanlah hantu beneran atau siluman. Tetapi wujud aslinya memang manusia biasa akan tetapi mereka belajar ilmu hitam (sihir) yang biasanya untuk mendapatkan kecantikan, awet muda/kehidupan abadi, atau kekayaan atau kesaktian lainnya dengan konsekwensi, iblis yang mengikat perjanjian dengan mereka meminta darah untuk menambah kekuatannya. Jadilah setiap malam kepala mereka melayang untuk mencari mangsa. Kebanyakan dari hantu kepala ini lebih menyukai darah bayi. baik bayi yang masih didalam kandungan, atau yang sudah lahir ataupun yang baru meninggal. Atau darah persalinan ibu yang baru melahirkan.

Tapi tak jarang juga, mereka menghisap darah orang dewasa seperti dilakukan oleh Nuke Kubi, walau Nuke Kubi lebih suka menghisap darah orang yang baru meninggal (mayat) daripada orang hidup.

3. kepala mereka mampu terbang dengan tali perut terurai-urai. Darah yang menitik dari tali perut mereka dipercayai berbisa dan akan menyebabkan kudis kepada mereka yang terkena.Hantu ini terbang berupa kepala dan organ bagian dalam seperti usus, paru-paru, jantung yang ikut terbang bersama kepala. Kebanyakan, hantu kepala terbang ini adalah wanita, tetapi Nuke Kubi di Jepang dan palasik di Sumatera barat ada juga yang laki-laki. Leak juga ada yang laki-laki walau lebih banyak yang perempuannya. Malahan palasik di sumatera Barat lebih banyak laki-laki daripada perempuan.

4. Cara membunuh hantu kepala terbang ini hampir serupa satu sama lainnya. Yaitu, dengan mencegah kepala terbang ini untuk kembali bersatu dengan tubuhnya sampai matahari terbit yang katanya bisa membuat mereka mati terbakar atau dengan menyembunyikan tubuh mereka sehingga mereka melemah dan akhirnya mati. Di Filipina, tubuh Manananggal ini ditaburi garam atau bawang putih sehingga saat kepalanya kembali, ia tidak akan bisa menyatukan kepalanya dengan tubuhnya karena sudah ditaburi garam, dan akhirnya ia akan mati. Sedangkan untuk Manananggal bisa dihindari dengan pisau belati, cuka, cahaya, rempah-rempah, dan ekor ikan pari (yang kadang-kadang dibuat menjadi cambuk)

5. Hantu kepala ini ada kemiripan dengan vampir, yaitu suka menghisap darah (walau kebanyakan menghisap darah ibu lagi mengandung, darah persalinan, darah bayi/janin baik dalam keadaan hidup atau mati), mempunyai taring (ada juga lidah yang panjang), takut / tidak suka dengan bawang putih, dan mati terbakar karena cahaya matahari.

6. Dan yang kasihannya, biasanya keturunan mereka ikut terkena kutukan dari ilmu hitam yang dituntut oleh orangtua atau nenek moyangnya. Penurunan ilmu keketurunan ini, bisa terjadi secara otomatis (turun begitu saja yang biasanya ke salah satu anaknya setelah orangtuanya yang punya ilmu meninggal) atau secara disengaja, yaitu sipemilik ilmu HARUS mewariskan ilmu tersebut kesalah satu keturunannya sebelum ia meninggal.

Jadinya, keturunan dari orang yang menuntut ilmu hitam ini tak jarang tidak mengetahui dimalam hari mereka bisa berubah menjadi setan pemangsa darah. Karena mereka sendiri tidak tahu apa yang terjadi pada diri mereka, karena iblis yang mengikat perjanjian tersebutlah yang merasuk dan mengendalikan kepala mereka untuk mencari mangsa. Adapun mereka mengetahui bahwa ilmu itu turun kepada mereka, tetapi mereka tidak berdaya untuk menghentikan iblis yang mengikuti orangtua atau nenek moyang mereka untuk tetap memakai tubuh mereka untuk mencari darah. Walau ada juga yang dengan senang hati mewarisi dan memakai kekuatan hitam warisan dari orangtua atau nenek moyang mereka untuk keuntungan pribadi mereka.

Karena Mia berasal dari Sumatera Barat, jadi Mia ada beberapa cerita mengenai Palasik yang sangat terkenal di Sumatera Barat (walau tidak semua orang disini tahu betul tentang hal tsb, hanya sekedar tahu nama saja).

PALASIK

Mia sendiri, lumayan banyak tahu cerita-cerita tentang palasik ini, karena tante Mia sendiri pernah menjadi korban dihisap oleh palasik saat beliau masih berumur 4 bulan, dan papa mia sendiri pernah bertemu dengan keturunan palasik ini (dan ga cuma papa aja yang tahu, bisa dibilang semua masyarakat disana tahu kalau orang tersebut keturunan palasik) tapi entah kenapa orang-orang pada biarin aja. Karena takut mungkin ya :-/

Kalau dijaman sekarang ini, mungkin akan dirasa aneh (Mia sendiri aja merasa aneh dan bisa dibilang ga gitu percaya) kalau palasik itu ada. Walau lumayan banyak orang-orang dahulu (orang2 se-angkatan nenek dan orangtua *jiaahh,,, angkatan*) punya cerita mereka sendiri soal palasik tersebut, dan bahkan, masih ada keluarga keturunan palasik yang tinggal dikota tersebut (yang entah mereka masih mewarisi kutukan tersebut atau tidak). karena konon katanya hanya satu anak saja mewarisi kutukan palasik tersebut dan anak lainnya tidak. Tapi ada juga yang mengatakan, palasik ini hanya diturunkan kepada anak laki-laki saja. Tapi toh, orang yang 'tersangka' sebagai palasik yang sempat menghisap darah tante mia adalah seorang nenek-nenek :-/

1. Pada malam hari, orang berilmu palasik ini akan memisahkan kepalanya dari badannya (tanpa ia sadari ataupun disadari. Tapi biasanya disaat ia sedang tidur). Palasik kuduang ini kadang tidak hanya memisahkan kepala saja, tapi ada juga yang memisah sampai setengah badan atasnya. yang tertinggal hanya badan bagian bawah saja. (Penggalan di Malaysia juga banyak jenis yang memisahkan diri sampai setengah badan ini). Tapi adakalanya badannya aja yang berjalan mencari makan. Palasik yang memisahkan kepala dengan badannya inilah dinamakan palasik kuduang (kuduang artinya terpisah atau terpotong)

2. Di siang hari ia berwujud manusia biasa. Tapi ia bisa menghisap darah bayi yang berada tidak jauh darinya hanya melalui tatapan saja (dan biasanya mulutnya bergerak2 seperti orang lagi menyedot sesuatu dengan mata menatap kearah tu bayi terus). Katanya, dengan tatapan tersebut, iblis yang mengiringi orang berilmu palasik tersebut menghisap darah si anak sehingga si anak langsung jatuh sakit.

Kepercayaan lainnya menyebutkan seorang bayi bisa jatuh sakit, hanya dengan tatapan palasik saja. Jika tidak segera diobati, tak tertutup kemungkinan anak tersebut meninggal dunia. Diyakini juga, ketika anak tersebut meninggal dunia, dan kemudian dikubur, palasik akan mencuri anak tersebut untuk disantap (kok jadi keingat sama sup janin di cina ya, bedanya yang makan orang normal yang meyakini sup dari janin perempuan tsb bisa memberikan vitalitas dan meningkatkan stamina seks. Manusia memang aneh2 aja. ga orang biasa, ga orang berilmu hitam, doyan makan bayi, naudzubillah mindzalik -_____-')

Dan bayi yang terkena 'tatapan' palasik ini tidak akan bisa diobati oleh dokter maupun orang pintar/dukun lainnya. Yang bisa mengobati anak tersebut hanyalah orang palasik juga (bisa dengan bukan palasik yang sama yang menyebabkan sakit). Biasanya, bayi yang terkena tatapan palasik ini jika tidak segera diobati maka akan meninggal dalam jangka waktu 1 bulan karena si anak mencret-mencret hebat (mencretnya ga biasa, katanya mencretnya nyemprot pupnya sangat deras dan banyak. Tidak spt penyakit mencret yang lazimnya), tubuhnya mengkerut dan berkeriput karena dehidrasi dan demam tinggi.

Untuk menghindari bayi sakit dari tatapan palasik ini, ada kepercayaan masyarakat Minangkabau menyebutkan, jika seorang kita bertemu dengan palasik, sebaiknya jangan dijauhi, tetapi didekati, kemudian meraih tangan palasik itu dengan mengatakan "Ini cucumu atau ini anakmu". Walau misalnya kita berbohong, akan tetapi entah kenapa iblis yang mengikuti orang tersebut tidak akan memangsa bayi tersebut. Karena didalam perjanjian, iblis tersebut tidak akan memangsa keturunan atau yang masih ada hubungan keluarga dengan orang yang membuat perjanjian ilmu tersebut.

Tante Mia sendiri, waktu umur 4 bulan pernah terkena tatapan palasik ini disaat nenek dan kakek jalan-jalan keluar daerah yang bernama Ipuah. Di saat mereka mau pulang, kata nenek Mia yang dikala itu masih muda, memang ada seorang nenek2 paruh baya yang melihat terus ke arah tante Mia yang berada didalam gendongan kakek dikala itu. Kata nenek Mia, tu nenek2 keliatan seperti menyedot2 sesuatu gitu gerakan bibirnya sambil terus menatap tante Mia lekat2. Nenek waktu itu ga tau apa2 tentang palasik, makanya hanya merasa aneh aja tapi tidak mikir macam2. Hanya perasaan ngerasa aneh dan ga enak aja, kata beliau. Lalu beliau mengajak kakek Mia pergi dari sana dan pulang ke rumah kami, di Bukittinggi.

3 jam setelah itu, tiba-tiba tante Mia menangis keras, ga bisa ditenangkan. Tau-taunya mencret-mencret hebat. Ga beberapa lama, langsung panas tinggi. Hari itu juga dibawa ke dokter. Tapi selama 15 hari, tidak ada perubahan apa-apa. Padahal udah beberapa kali bolak balik ke dokter tapi kondisi tante justru tambah parah dan kulitnya mulai berkerut dan berkeriput. Tubuhnya yang semula montok khas bayi menjadi kuruuuuuuussss banget.

Trus ada tetangga yang udah tua mengatakan, kayaknya tante mia terkena palasik. Hanya orang palasik juga yang bisa mengobatinya. Lalu beliau kasih tau tempat tinggal palasik yang ga gitu jauh dari sana (dan orang-orang sana pada banyak yang tau kalau orang itu palasik, tapi ga berani mengganggu keluarga tersebut untuk hengkang dari sana. Mungkin karena takut entah karena perjanjian orang-orang tua sebelum mereka dengan palasik tersebut, jika warga tidak mengganggu dia, maka dia tidak boleh mengganggu warga setempat. Entahlah, yang pasti, keluarga palasik tersebut tinggal disana tanpa ada gangguan warga tetapi yang pasti dijauhi). Nenek Mia yang ga gitu percaya sama hal gituan, jadinya ga gitu digubris perkataan tetangga kami itu.

Lalu tante Mia dibawa ke orang pintar disana yang biasa mengobati penyakit yang aneh-aneh. Tapi orang pintar tersebut bilang ga bisa mengobati tante Mia, karena sakitnya kena palasik. Dan memang hanya palasik juga yang bisa mengobatinya.

Akhirnya, nenek dan kakek pergi ke tempat orang palasik yang di rekomendasikan oleh tetangga tadi (ya elah,,, kayak paan aja pake rekomendasi). Tapi tentu saja tante ga dibawa. Kalo dibawa, malah dimakan sama tu palasik. Dan untung aja, orang palasik tersebut baik. Di saat mengutarakan maksud kedatangan nenek Mia kesana, bahwanya tante Mia sakit terkena palasik di Ipuah, orang tersebut langsung ngerti. Lalu dia cuma kasih air minum botol yang sudah ia bacakan ke nenek. Lalu diminumkan ke tante Mia yang kala itu kata si nenek udah hampir sekarat (saking lemahnya kondisi tante waktu itu, sampe ga kuat nangis. Dah kayak hampir meninggal gitu karena mencret terus). Alhamdulillah, besoknya mencret tante langsung hilang. Dan akhirnya berangsur-angsur sembuh dan sehat seperti sediakala.

Memang aneh ceritanya :-/

Ada lagi cerita mengenai palasik ini dari papa. Cuma ga ada sih kejadian aneh kayak si tante. Hanya di daerah papa waktu kecil dulu, ada keluarga palasik yang tinggal disana. Dan masyarakat juga tau tapi ya itu, dibiarin aja ga diganggu. Katanya sih, kepala rumah tangga tersebut yang palasik dan dikarenakan diturunkan dari neneknya dan sialnya, kutukan tersebut diturunkan ke si bapak tersebut. Dan bapak itu sendiri orangnya baik, suka menolong, cuma ia dan keluarga karena malu masyarakat tau ia dari keturunan palasik dan ia sendiripun palasik, jadinya ia jarang berbaur dengan masyarakat. Walau istrinya suka ikut pengajian disana. Dan sampai sekarang, keturunan orang tersebut masih ada hidup disana (di Aur), salah satu anak perempuannya malah pemilik salah satu madrasah. Tapi ga tau ke anak yang mana kutukan tersebut diturunkan. Dan hal tersebut hanya diketahui oleh orang-orang tua angkatan papa saja. Generasi-generasi sekarang ga gitu tau mengenai keluarga tersebut kecuali dikasih tau sama orang asli sana.

Makanya orang-orang asli sana, ga boleh anak-anaknya nikah dengan keluarga tersebut. Takut anak cucu mereka yang sial diwarisi kutukan tersebut. Jadinya keluarga tersebut menikah dengan orang yang bukan berasal dari Bukittinggi karena tidak tahu asal usul keluarga mereka. Serem tapi kasihan juga ya. Kesalahan nenek moyang tapi anak cucu yang menanggung akibatnya.

Tapi ada juga kepercayaan lain mengatakan, kutukan tersebut hanya bisa diturunkan sampai 7 keturunan saja. kalo udah keturunan ke 8, kutukan palasik tersebut musnah dengan sendirinya. Makanya sekarang-sekarang ini keberadaan palasik semakin sedikit, tidak sebanyak zaman dahulu. Bisa jadi karena sudah sampai di keturunan ke 8 dan dijaman sekarang, ga ada lagi yang berminat untuk belajar ilmu tersebut (walo masih ada aja manusia menuntut ilmu hitam jenis lain dengan pesugihan atau pengorbanan yang lain~~)

Trus, ada juga cerita lainnya. Tapi di alami oleh orang kampung nenek Mia (waktu itu nenek Mia masih kecil). Ceritanya, ada seorang bapak-bapak kaya, menikah ke 5x nya (jaman dahulu, orang banyak bini biasanya orang dari keluarga terpandang terutama yang bergelar Datuk. Semakin tinggi pangkat dan kekayaan datuk tersebut, semakin banyak bininya. Karena memiliki banyak istri adalah kebanggaan dan prestise tersendiri dari datuk tersebut. Memalukan jika seorang datuk terutama datuk yang memimpin suku paling terbesar di daerahnya, memiliki sedikit istri. Dan wanita yang jadi bininya merupakan kebanggaan tersendiri dan bisa mengangkat harkat martabat keluarganya bahwa ia istri seorang datuk walau istri yang kesekiannya. makanya ga jarang banyak orangtua si gadis sendiri memberikan anak gadisnya untuk dinikahkan oleh si datuk tersebut. Bahkan kadang saking banyaknya istri para datuk tersebut, sampai ga hapal malah ga tahu dengan anaknya sendiri. Paraaahhh~~ walau ga semua datuk seperti itu. Kadang ada juga datuk yang hanya mau menikah dengan satu istri aja walau orangtuanya dari datuk tersebut maksa-maksa anaknya untuk menikah lagi. Tergantung bagaimana sifat masing-masing datuk tersebut. tapi biasanya kebiasaan datuk memiliki banyak istri ini terjadi disaat jaman penjajahan. Selain datuk, tuan tanah atau saudagar-saudagar kaya yang punya banyak istri walau tidak sebanyak datuk)

Balik ke cerita. Bapak-bapak ini karena kaya, maka ia punya istri 5 orang. Dan istri mudanya ini ternyata seorang palasik. Ia tahunya disaat udah beberapa bulan menikah dengan istri mudanya. Dan di saat tengah malam, si bapak ini terbangun dari tidurnya dan didapatinya istrinya badan atas istrinya sudah tidak ada. Mia ga tau reaksi si bapak ini, karena ga ada diceritanya (yang pasti jejeritan dah trus pingsan. serem gitu~~). Yang pasti, pas paginya, istrinya balik normal seperti biasanya dan istrinya sendiri kayaknya ga tau apa yang terjadi pada tubuhnya (entah pura2 ga tau. ga tau deh).

Si bapak ini ga terima setelah mengetahui jatidiri istrinya itu palasik dan ia ketakutan. Lalu ia memberitahu kepada bapak-bapak warga disana apa yang terjadi pada istrinya, bahwasanya istrinya tersebut palasik. Lalu seorang warga menyarankan, disaat tubuh istrinya tersebut terpisah, maka masukkan semacam ijuk sapu kedalam bagian tubuhnya yang tertinggal. Lalu dikerjakanlah saran tersebut ketika ia mendapati sebagian tubuh atas istrinya menghilang lagi.

Dipagi harinya, tubuh tersebut lengkap kembali. Lalu istrinya mengeluh, perutnya sakit seperti ada yang menusuk2. Tetapi ia tidak tahu bahwa sakit perutnya itu karena suaminya memasukkan beberapa ijuk tersebut didalam perutnya. Tidak lama setelah itu, istrinya itu meninggal.

Dan kemarin baca2 dikaskus, tentang Kuyang di Kalimantan (sama dengan Palasik). Salah satu komentator disana bercerita, pernah tempatnya digegerkan dengan penemuan hantu kepala yang tersangkut rambutnya di duri yang sengaja diletakkan oleh masyarakat yang diresahkan oleh penampakan kuyang didaerah tersebut. Dan lebih mengejutkannya, hantu kepala tersebut adalah salah satu orang terkaya dan terkenal di daerah tersebut. Orangnya malu setengah mati karena ketahuan oleh masyarakat dan masyarakat pun kaget ga nyangka, kalo pak Haji tersebut adalah Kuyang yang ternyata diturunkan oleh orangtuanya. Weww..~~

Terlepas benar tidaknya keberadaan makhluk-makhluk tersebut, semoga ga pernah ketemu deh. Naudzubillah mindzalik ya Rabb, semoga kita semua berada didalam perlindunganNya dari kejahatan jin dan manusia. Aamiin..

Senin, 07 Mei 2012

Broken Wing

Sayapmu adalah sayapku
Tapi sayapku belum tentu menjadi sayapmu
Karena tanpa aku, kau masih bisa terbang
Without you, I'm broken

Rabu, 21 Maret 2012

Syiah: Kedudukan Mereka Di Dalam Islam

Akhir-akhir ini, marak tentang pemberitaan aliran Syi’ah di Indonesia. Pro dan kontra pun mewarnai atas keberadaan aliran syi’ah didalam masyarakat

Masyarakat yang rawan akan info mengenai Syi’ah ini tentu dibingungkan dengan pemberitaan yang beredar yang mengatakan bahwa aliran Syi’ah ini adalah aliran sesat. Bahkan, ada pula yang mengatakan bahwa MUI juga sudah menfatwa bahwa aliran Syi’ah ini adalah aliran sesat, sama halnya dengan keberadaan aliran Ahmadiyah. Hal inilah menjadi konflik ummat islam ditanah air beberapa bulan terakhir ini yang dikuatirkan, aliran sesat ini akan menyebar dan menjadi racun didalam tubuh ummat islam.

Hal inilah yang menarik perhatian Mia. Karena setau Mia, MUI sendiri tidak pernah mengeluarkan fatwa sesat untuk aliran Syi’ah ini (sumber bisa dilihat disini). Dan pernyataan dari hasil Konfrensi Islam Internasional yang diadakan di Amman, Yordania;ada 8 mazhab/aliran yang disahkan oleh organisasi islam Internasional, dan Syi’ah salah satu di antaranya (sumber baca disini atau disini dalam bahasa inggris).

Jadinya, kenapa justru di Indonesia, berita tentang Syi’ah ini cenderung berbau negatif dan menjadi momok baru bagi ummat muslim di Indonesia? Apakah ada pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan mayoritas muslim di Indonesia adalah Sunni untuk memerangi saudara sesama muslim dari golongan Syi’ah? Memang, ada beberapa pecahan dari Syi'ah ini sudah melenceng dari syariat islam dan menghina serta mengkafirkan para sahabat dan siti Aisyah. Akan tetapi, hal ini tidak bisa dipukul rata bahwa semua aliran Syi'ah seperti itu.

Terlebih lagi, sedikitnya pengetahuan kita mengenai aliran Syi’ah ini ditambah dengan pemberitaan2 dimedia online yang Mia nilai sangat provokatif. Apalagi setelah terjadinya bentrokan dibeberapa daerah Jawa Timur dengan kelompok Syi’ah yang berada disana, dengan sendirinya pernyataan dari kelompok masyarakat tersebut ikut menggiring opini publik bahwa aliran Syi’ah ini adalah aliran sesat yang harus diberantas dan diusir dari tanah air. Di tambah dengan informasi2 yang didapat dari internet yang bernada negatif tentang aliran Syi’ah ini yang pada awalnya juga ikut membentuk opini Mia terhadap aliran Syi'ah ini (walau Mia lebih cenderung bersikap netral, akan tetapi perlunya juga untuk kita mengetahui kebenarannya)

Bismillahirrahmanirrahim

APAKAH ALIRAN SYI’AH TERSEBUT?

Syi’ah (Bahasa Arab: شيعة, Bahasa Persia: شیعه) ialah salah satu aliran atau mazhab dalam Islam. Muslim Syi'ah mengikuti Islam sesuai yang diajarkan oleh Nabi Muhammad dan Ahlul Bait-nya. "Syi'ah" adalah bentuk pendek dari kalimat bersejarah Syi`ah `Ali شيعة علي artinya "pengikut Ali".

Syi'ah menurut etimologi bahasa Arab bermakna: pembela dan pengikut seseorang. Selain itu juga bermakna: Setiap kaum yang berkumpul di atas suatu perkara. Adapun menurut terminologi syariat bermakna: Mereka yang menyatakan bahwa Ali bin Abu Thalib sangat utama di antara para sahabat dan lebih berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan kaum muslimin, demikian pula anak cucu sepeninggal beliau.

Akan tetapi, Syi'ah dalam sejarahnya mengalami beberapa pergeseran. Seiring dengan bergulirnya waktu, Syi'ah mengalami perpecahan sebagaimana Sunni juga mengalami perpecahan didalam mazhabnya. Pecahan-pecahan inilah ada yang masih mengikuti madzhab aslinya ada juga yang sudah melenceng dan menjadi garis kanan yang keras yang saling melecehkan satu sama lainnya, saling mengkafirkan satu sama lainnya dan tak jarang, mengubah tatanan syariat islam yang sudah digariskan. Perpecahan mazhab2 ini tidak hanya dialami oleh aliran Sunni dan Syi'ah saja, karena ada 8 mazhab yang telah diakui di Islam (2 diantaranya Sunni dan Syi'ah) yang juga mengalami pergeseran dan perpecahan dari cabang2nya. Cabang2 dari 8 madzhab yang mengalami pergeseran jauh dari tuntutan syariat dan prinsip utama Islam inilah yang patut diwaspadai.

Ada jauh lebih banyak kesamaan dalam 8 mazhab-mazhab Islam ini dibandingkan dengan perbedaan-perbedaan di antara mereka. Para pengikut/penganut kedelapan mazhab Islam semuanya sepakat dalam prinsip prinsip utama Islam (Ushuluddin). Adapun persamaan dari ke 8 madzhab islam tersebut:

1. Percaya pada satu Allah yang Mahaesa dan Makakuasa dan tidak menyekutukanNya;
2. Percaya pada al-Qur'an sebagai wahyu Allah
3. Baginda Muhammad saw adalah Nabi dan Rasul untuk seluruh manusia dan tiada lagi nabi dan rasul setelah beliau.
4.Semua sepakat pada lima rukun Islam: dua kalimat syahadat(syahadatayn); kewajiban shalat 5 waktu; zakat; puasa di bulan Ramadhan, dan Haji ke Baitullah di Mekkah.
5. Semua percaya pada dasar-dasar akidah Islam: kepercayaan pada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitabNya, para rasul-Nya, hari akhir, dan takdir baik dan buruk dari sisi Allah.

Perbedaan di antara ulama kedelapan mazhab Islam tersebut hanya menyangkut masalah-masalah cabang agama (furu’) dan tidak menyangkut prinsip-prinsip dasar (ushul) Islam. Perbedaan pada masalah-masalah cabang agama tersebut adalah rahmat Ilahi. Sejak dahulu dikatakan bahwa keragaman pendapat di antara 'ulama adalah hal yang baik.

Akan tetapi, semenjak imam Syi'ah pertama ( Ali bin Abu Tholib) meninggal banyak sekali perubahan dalam tubuh Syi'ah. Kita perbandingkan kitab-kitab hadist yang dipakai antara Syi'ah daN Sunni. Syi'ah memakai 4 kitab sebagai sumber hadist yaitu Al Kafi, Man La Yahdhuruhul Faqih, At tahdzib, Al istibshar. Sedangkan Sunni memiliki 9 kitab rujukan yaitu Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Nasa'i, Sunan Tirmidzi, Sunan Abu Daud, Sunan Ibnu Majah, Muwatha Malik, Musnad Ahmad, dan Sunan Darimi. Seperti halnya Sunni yang meyakini Bukhari dan Muslim saja yang seluruh hadistnya dianggap sahih,sedang kitab lain tidak semua hadist didalamnya dianggap sahih. Sedangkan didalam kitab hadist Syi'ah yaitu al-kafi, banyak terdapat keganjilan didalamnya bahkan banyak yang melanggar syariat. Akan tetapi, ternyata tidak semua Syi'ah yang memakai hadist dari Al-kafi tersebut. Bisa dikatakan, aliran Syi'ah yang sudah bercabang dan bergeser dari Syi'ah aslinya yang memakai kitab tsb. Wallahualam.

Akan tetapi, kita tetap dilarang untuk mengkafirkan saudara sesama muslim, hanya karena perbedaan mereka SELAMA perbedaan itu tidak menyangkut prinsip-prinsip dasar Islam yang spt disebutkan di atas tadi.

Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

((أَيما رجُل قال لِأَخِيْهِ : يَا كَافِرُ, فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا , فَإِنْ كَانَ كَمَا قَالَ وَ إِلاَّ رَجَعَتْ عَلَيْهِ))

“Apabila seseorang menyeru kepada saudaranya: Wahai kafir, maka sungguh akan kembali sebutan kekafiran tersebut kepada salah seorang dari keduanya. Bila orang yang disebut kafir itu memang kafir adanya maka sebutan itu pantas untuknya, bila tidak maka sebutan kafir itu kembali kepada yang mengucapkan.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6104 dan Muslim no.60)

ASAL MULA MUNCULNYA SYI'AH 

Perbedaan pendapat di kalangan para ahli mengenai awal kemunculan Syi’ah adalah hal yang wajar. Para ahli melihat fakta sejarah perpecahan umat Islam mulai muncul pada masa pemerintahan Usman bin Affan dan memanas pada pemerintahan Ali bin Abi Thalib, tepatnya setelah perang Shiffin. Adapun kaum Syi’ah berpendapat bahwa perpecahan itu sudah ada sejak wafatnya Nabi saw. dan kekhalifahan berada di bawah pimpinan Abu Bakar.

Pada perkembangannya, perbedaan pendapat mengenai khalifah antara sunni dan syi'ah ini dimanfaatkan oleh beberapa orang yang mengincar kekuasaan dalam kekuatan baru dunia ini, yaitu kekuatan ummat islam. Fitnah semakin menyebar dikalangan ummat islam, terutama setelah terbunuhnya khalifah Utsman bin Affan. Satu-satunya sahabat utama yang masih hidup dikala itu adalah Ali bin Abi Thalib, sahabat sekaligus menantu rasul dan ayah dari para ahlul bayt (keturunan) rasul. Keistimewaan kedudukan Ali yang tidak dimiliki oleh sahabat lainnya inilah mendapat banyak dukungan dari ummat, baik dari Sunni maupun Syi'ah yang dikuatirkan oleh kaum munafiq poros kekuatan berada ditangan Ali setelah tiadanya ketiga sahabat utama rasul yang lainnya. Maka dimulailah plot mereka untuk memecahkan antar sesama kaun muslimin terutama antara kelompok Sunni dan Syi'ah.

Ada 3 riwayat tentang asal mula kelompok Syi'ah ini:

1. Dari sumber lain dikatakan syi'ah sudah ada sejak nabi masih hidup. Syi'ah disini dimaksudkan hanyalah suatu kelompok yang bersimpati kepada Ali. Suatu kaum yang bersimpati kepada Ali karena kelebihan dan kedekatnya dengan Rosul. Jadi bukan karena ada campur tangan yahudi atau agama parsi, seperti yang orang2 katakan. Dan pada tahap selajutnya syi'ah hanya sebagai sebuah media politik (persoalan kekhalifahan) bukan perbedaan akidah seperti Syi'ah sekarang.

2. Syi'ah muncul pada saat pemerintahan Utsman bin Affan. Di masa ini berkembang di masyarakat muslim sebuah rasa simpatik dan kekaguman yang tinggi terhadap Ali. Ali memang seorang pribadi yang mengesankan, keislamanya tidak diragukan, kesetiaan terhadap Rosul sudah terbukti, dan berbagai kelebihan-kelebihannya yang tidak dimiliki sahabat lain.

3. Syi'ah muncul setelah nabi meninggal, sebagai reaksi mendukung Ali untuk menjadi khalifah pengganti Rasul. Lawan politik Syi'ah waktu itu adalah kelompok Sunni yang mendukung 3 sahabat Rasul lainnya untuk menjadi khalifah, antara lain abu bakar, Umar dan Utsman. Perbedaan pandangan ummat islam mengenai inilah kemudian dimanfaatkan oleh kaum Yahudi untuk memecahbelahkan ummat islam. Kemudian, munculah Abdullah bin saba' seorang yahudi yang berpura-pura masuk islam (sumber lain mengatakan ia hanya diperalat oleh kaum Yahudi). Dan berusaha memecah belah umat islam, dengan fitnah bahwa Ali lah yang berhak menjadi khalifah, khalifah sebelumnya adalah kafir yang telah merampas dari yang berhak. Bahkan ia menuhankan Ali dan melebih-lebihkan kedudukan Ali diatas Rasul. Lalu ia pun membentuk kelompok Syi'ah Saba'iyah. Sampai-sampai, abdullah bin saba' inipun memprovokasi Ali secara langsung untuk memberontak kepada Utsman dan mengambil alih kepemimpinan.

Berdasarkan dua hal tersebut, Ali kemudian memerangi abdullah dan pengikutnya. Perang ini terjadi pada pertengahan bulan Jumadil Akhir tahun tiga puluh enam Hijriyah. Pertempuran ini berjalan dari siang hari sampai sorenya, dan menelan korban sepuluh ribu Muslimin, bahkan dalam riwayat yang lain tiga belas ribu orang. Akan tetapi, abdullah bin saba' sendiri berhasil melarikan diri ke Mesir dengan meninggalkan paham dari Abdullah yang telah merusak sebagian kelompok Syi'ah yang ada. Hal ini bisa dilihat mereka sangat mengagungkan Ali bahkan melebihi dari Rasul sendiri dan menghina para sahabat seperti yang dilakukan oleh abdullah. Kelompok Syi'ah yang berpaham inilah yang membuat citra kelompok Syi'ah lainnya ikut menjadi buruk dimata Sunni dan kelompok islam lainnya.

Kemudian di Mesir, abdullah pun bertemu dengan beberapa kaum munafiquun untuk merencanakan suatu makar yang hebat. Kemudian dengan pengaruhnya, Abdullah bin Saba’ berhasil membuat opini tentang keburukan pemerintahan Utsman bin Affan ra di Madinah. sehingga beberapa orang kaum muslimin terpengaruh oleh cerita yang disebarkan oleh Abdullah bin Saba’ tersebut. Setelah dirasakan banyak kaum muslimin yang terpengaruh olehnya maka Abdullah bin Saba’ berangkat ke madinah beserta rombongannya menuju Madinah. Sesampainya Madinah Abdullah bin Saba’ dan rombongannya membuat fitnah yang besar terhadap Khalifah Utsman bin Affan.

Saking hebatnya fitnah itu karena juga disebarkan oleh rombongan Abdullah bin Saba’ yang besar jumlahnya maka sebagian sahabat radhiyallahu ‘anhum terpengaruh oleh ucapan kaum munafiquun tersebut sampai – sampai putra Khalifah pertama yaitu Abdurrahman bin Abu Bakar Ash Shiddiq mendatangi Khalifah Utsman bin Affan ra. dengan marah dan menarik jenggotnya.

Dan pada puncaknya kaum munafiquun dan sebagian kaum muslimin yang baik yang terprovokasi oleh ucapan Abdullah bin Saba’ dan pengikutnya mengepung rumah Utsman bin Affan ra. kemudian membunuhnya. Setelah meninggalnya Utsman bin Affan ra. maka kaum munafiquun dan sebagian sahabat serta kaum muslimin yang lain membai’at Ali bin Abi Thalib ra secara paksa. Salah satu yang memaksa Ali kala itu adalah Thalhah dan pemuka madinah yang meminta Ali bersedia untuk di baiat.

Akan tetapi, Ali sudah membaca situasi dan fitnah yang akan menimpa dirinya jika ia menerima pembaiatan tsb, maka ini akan menjadi kesempatan bagi kelompok yang ingin menjatuhkan dirinya untuk menuntut pengusutan atas pembunuhan Utsman. Kemudian munculah fitnah yang menyebabkan sahabat terpecah belah yaitu tentang hukuman bagi para pembunuh Utsman bin Affan ra. Mereka terus mendesak Ali untuk menerima jabatan kepemimpinan atau keadaan ummat akan semakin kacau dan bingung setelah kematian Utsman dan ditakutkan hal ini dimanfaatkan oleh kelompok yang haus kekuasaan. Akhirnya Ali pun bersedia dibaiat. Akan tetapi, ia meminta waktu untuk berijtihad dalam kasus pembunuhan Ustman. Sikap 'diam'nya Ali ini dimanfaatkan oleh kaum muanfiquun untuk melancarkan fitnah terhadap Ali, bahwa Ali sengaja melindungi pembunuh Utsman bahkan mereka menuduh Ali lah dalang dari pembunuhan Utsman.

Fitnah tersebut semakin besar ketika Muawiyah dan kelompoknya mendesak dan menyatakan makar kepada Ali, jika Ali belum juga mengambil tindakan atas kasus pembunuhan Utsman, paman Muawiyah. Hal ini membuat sahabat radhiyallahu’anhum terpecah menjadi 2 kubu yaitu kubu Ali bin Abi Thalib ra. dan kubu Mu’awiyyah, Thalhah, Zubair dan sahabat lainnya menuntut disegerakannya hukuman qishas bagi pembunuh Utsman bin Affan ra. Dan mereka tidak akan tunduk kepada Ali selama pembunuh Utsman tidak dihukum. Namun Khalifah Ali bin Abi Thalib ra. menundanya karena 2 ijtihad, pertama negara dalam keadaan kacau sehingga perlu ditertibkan dahulu dan yang kedua, untuk pembunuh Utsman bin Affan ra, Ali masih memerlukan waktu untuk memeriksa kebenarannya agar tidak salah menjatuhkan hukuman kepada kelompok yang tidak bersalah dari pihak muslimin karena ketidaktahuannya. Hal ini terlihat dalam perkataan Ali.

" Demi Allah aku sangat berharap seandainya Bani Umayyah Ridha, maka akan aku keluarkan orang-orang dari Bani Hasyim, kemudian mereka bersumpah bahwa kami tidak membunuh Utsman dan tidak mengetahui pembunuh Utsman". memang demikian, keadaan dia (Ali bin Abi Thalib Radiallahu anhu) tidak mengetahui para pembunuh Utsman Radiallahu anhu dengan pasti. Dan dia juga mengatakan pada saat terjadinya perang jamal : "Semoga Allah melaknati para pembunuh Utsman baik di lembah atau di gunung, didaratan atau di lautan". Beliau juga berdoa : "Ya Allah, limpahkanlah kehinaan para pembunuh Utsman.

Sikap ijtihad Ali yang dianggap menunda-nunda ini kemudian disampaikan Thalhah kepada Aisyah yang dianggap sosok yang bisa menegur Ali. Aisyah yang kuatir masalah ini akan berlarut2 dan akan membawa keperpecahan ummat pun akhirnya bersedia keluar dari rumah beliau di Medinah untuk menemui Ali di Basrah. keluarnya Aisyah, dijadikan fitnah oleh kaum munafiq dan pengikut abdullah bin saba' dengan mengatakan Aisyah membenci Ali dan hendak memerangi Ali. Fitnah inilah yang membuat kelompok Syi'ah yang termakan hasutan membenci Aisyah RA. Tujuan Aisyah ke Basrah untuk menyatukan umat Islam, bukan beperang atau memberontak terhadap Ali radhiallahu ‘anh. Pasukan Ali r.a. pun pergi ke Basrah bukan untuk memerangi pasukan Aisyah, tapi untuk bersatu dengan mereka guna menghadapi peristiwa pembunuhan Usman r.a. Jika tujuannya untuk mempersatukan umat Islam, kenapa terjadi peperangan antara pasukan Aisyah dan Ali?

Sebenarnya ada orang-orang yang membunuh Usman (Sejarah Terbunuhnya Usman r.a.) menyamar di antara umat Islam . Mereka tidak suka melihat Aisyah dan Ali bersatu. Oleh karena itu mereka merencanakan untuk mengadu domba mereka. Setelah islah antara Aisyah dan Ali tersepakati, keesokan paginya, para pembunuh Usman menyerang pasukan Aisyah yang sedang tidur dengan nyenyaknya. Pasukan Aisyah kaget dan menyangka pasukan Ali mengkhianati mereka. Untuk mempertahankan diri mereka, pasukan Aisyah menyerang pasukan Ali. Pasukan Ali menyangka pasukan Aisyah telah mengkhianati mereka. Akibatnya terjadilah perang Jamal yang dimana dimenangkan oleh Ali. Akan tetapi, pertempuran ini banyak menumpahkan darah sesama muslim.

Aisyah yang menyadari pertumpahan darah sesama muslim ini sangat menyesali diri kenapa ia tidak bisa mencegah dan meluruskan kesalahpahaman ini sehingga harus melihat antar ummat islam saling berperang hanya karena kesalahpahaman tersbut. Setelah perang Jamal berakhir, Aisyah meminta Ali untuk memulangkannya ke Madinah. Dan setelah itu, Aisyah tidak mau lagi ikut campur dalam urusan politik dan mempercayakannya kepada Ali. Dan Ali pun memulangkan Aisyah dengan selamat dan penuh rasa hormat dengan pengawalan dari saudara sepupu Aisyah dan beberapa pengawal wanita yang menyamar menjadi prajurit untuk menjaga kehormatan Aisyah agar tidak terjadi fitnah terhadap diri Aisyah.

Pada saat Aisyah akan bertolak ke Madinah, saat itu Ummul Mukminin Aisyah ra berkata; “Wahai anakku janganlah diantara kita saling menyalahkan”. Kemudian Khalifah Ali ra berkata;"Sesungguhnya ibunda Aisyah adalah istri Rosululloh didunia dan di akhirat." Hal ini menampakkan tiada kebencian diantara Aisyah terhadap Ali dan begitu pula dengan Ali kepada Aisyah.

Sungguh sangat menyesakkan, bahwa sebagian kisah tentang perang Jamal ini banyak dikisahkan kembali oleh pihak2 yang mengaku sebagai Syi'ah yang jelas2 telah melenceng dan menfitnah kemuliaan ibunda siti Aisyah r.a, salah satu istri Rasul yang berakhlak mulia, digambarkan sebagai sosok yang penuh dendam, dengki dan kebencian kepada Ali. Naudzubillah mindzalik. Tentu hal ini semakin mengobarkan kebencian para ummat muslim lainnya kepada kelompok yang telah melakukan fitnah terhadap ibunda Asiyah r.a dan sekaligus menyudutkan citra kelompok Syi'ah yang dituduh telah menyebarkan fitnahan dan cacian kepada Aisyah dan para sahabat. Dan disayangkan, beberapa aliran Syi'ah yang sudah terpecah dan melenceng, menerima versi fitnah atas diri Aisyah dan para sahabat tersebut sehingga semakin memperburuk citra Syi'ah yang sesungguhnya di mata ummat muslim lainnya.

PERPECAHAN DIDALAM ALIRAN SYI'AH

Dengan bergulirnya massa. Kelompok-kelompok Syi'ah ini sudahpun terpecah-pecah, sebagaimana yang juga terjadi dikelompok2 islam lainnya. bahkan, mayoritas agama langit seperti agama Yahudi, Kristen, Majusi dan Islam mengalami realita tersebut di atas. Terjadi perbedaan pendapat di antara para pemeluknya dalam menentukan siapakah yang berhak menjadi pemimpin sebagai penerusnya atau tak jarang dipengaruhi oleh politik dan kekuasaan bisa melatarbelakangi perpecahan dari sebuah madzhab. Dengan demikian, akan muncul aliran baru yang merupakan cabang dari mazhab itu.

Pada masa hidupnya Imam Ali a.s, Imam Hasan a.s. dan Imam Husein a.s. tidak terjadi perpecahan dalam tubuh mazhab Syi’ah. Setelah Imam Husein a.s. meninggal secara syahid, mayoritas pengikut Syi’ah menjadikan Imam Ali As-Sajjad a.s. sebagai imam keempat dan kelompok minoritas yang dikenal dengan sebutan “Kaisaniyah” menjadikan putra ketiga Imam Ali a.s. yang bernama Muhammad bin Hanafiah sebagai imam keempat dan mereka meyakini bahwa ia adalah Imam Mahdi a.s. yang ghaib di gunung Ridhawi. Di akhir zaman ia akan muncul kembali.

Setelah Imam Sajjad a.s. syahid, mayoritas pengikut Syi’ah mengakui Imam Baqir a.s., putranya sebagai imam Syi’ah dan kelompok minoritas meyakini Zaid, putranya yang lain sebagai penggantinya. Kelompok ini akhirnya dikenal dengan nama Syi’ah Zaidiyah.

Pasca syahadah Imam Baqir a.s., para pengikut Syi’ah menjadikan Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s., putranya sebagai imam keenam Syi’ah. Dan setelah Imam Shadiq a.s. syahid, para pengikut Syi’ah terpecah menjadi lima golongan:

a. Kelompok pertama. Mayoritas pengikut Syi’ah yang meyakini Imam Musa Al-Kazhim a.s, putranya Imam Ridha a.s sebagai imam Syi’ah yang ketujuh. Imam Ridha a.s. mengangkat putranya sebagai imam Syi’ah yang kedelapan dan kelompok minoritas dari mereka mengingkari imamahnya dan menjadikan Imam Kazhim a.s. sebagai imam Syi’ah terakhir. Kelompok ini akhirnya dikenal dengan nama “Syi’ah Waqifiyah”.
b. Kelompok kedua menjadikan putra sulungnya yang bernama Ismail sebagai imam Syi’ah yang ketujuh. Kelompok ini akhirnya dikenal dengan nama “Syi’ah Ismailiyah”.
c. Kelompok ketiga menjadikan putranya yang bernama Abdullah Al-Afthah sebagai imam Syi’ah yang ketujuh. Kelompok ini akhirnya dikenal dengan nama “Syi’ah Fathahiyah”.
d. Kelompok keempat menjadikan putranya yang bernama Muhammad sebagai imam Syi’ah yang ketujuh.
e. Kelompok kelima menganggap bahwa Imam Shadiq a.s. adalah imam Syi’ah terakhir dan tidak ada imam lagi sepeningalnya.

Setelah Imam Ridha a.s. syahid hingga lahirnya Imam Mahdi a.s., di dalam tubuh Syi’ah tidak terjadi perpecahan yang berarti. Jika terjadi perpecahan pun, itu hanya berlangsung beberapa hari dan setelah itu sirna dengan sendirinya. Seperti peristiwa Ja’far bin Imam Ali Al-Hadi a.s., saudara Imam Hasan Al-Askari a.s. yang mengaku dirinya sebagai imam Syi’ah setelah saudaranya syahid.

Dari kelima aliran Syi'ah diatas akhirnya berkembang dan terpecah menjadi 22 aliran Syi'ah. Akan tetapi, Mia baru bisa mendapatkan 11 informasi dari aliran syi'ah ini. Tiga dari 22 aliran Syi'ah yang terbesar yang hingga sekarang masih memiliki pengikut yang tidak sedikit, sedangkan selebihnya mempunyai sedikit pengikut. Tiga aliran Syi’ah terbesar tersebut adalah:
1. Syi’ah Zaidiyah
2. Syi’ah Ismailiyah terpecah lagi menjadi
a. Bathiniyah, yang nanti terpecah lagi menjadi dua yaitu;
- Nazzariyah yang dikenal jg sbg Aqa-khaniyah
- Musta’liyah
b. Duruziyah yang pada akhirnya para pengikutnya kembali ke bathiniyah
c. Muqanni’iyah yang juga para pengikutnya kembali ke bathiniyah
3. Syi’ah Imamiah Itsna ‘Asyariyah.

dari ketiga aliran syi'ah tersebut, aliran bathiniyah pecahan dari Ismaliyah yang sangat berbeda ajarannya dibandingkan dua aliran syi'ah lainnya. Perbedaan mendasar antara Syi’ah Imamiah, Syi’ah Zaidiyah dan Syi’ah Ismailiyah. Syi’ah Zaidiyah meyakini bahwa imamah bukanlah hak prerogatif Ahlul Bayt a.s. saja dan para imam tidak berjumlah dua belas orang serta mereka tidak mengikuti fiqih Ahlul Bayt a.s. Sementara, Syi’ah Ismailiyah meyakini bahwa para imam berjumlah tujuh orang, Rasulullah SAWW bukanlah penutup para nabi dan hukum-hukum syari’at bisa dirubah. Bahkan --menurut keyakinan Bathiniyah-- kewajiban manusia sebagai makhluk Allah (taklif) bisa dihapus total. Sedangkan aliran Syi'ah imamiah itsna 'Asyariyah, Mereka meyakini bahwa Rasulullah SAWW adalah penutup semua nabi dan para imam a.s. tersebut --berdasarkan hadis-hadis mutawatir yang disabdakan olehnya-- berjumlah dua belas orang, tidak lebih dan tidak kurang dan syi'ah imamiyah ini hanya memandang hak imamah pada Ahlul Bait dari garis keturunan Fatimah yang kemudian diteruskan oleh garis keturunan Al-Husein. Mereka juga meyakini bahwa Al Quran mencakup semua hukum yang diperlukan oleh kehidupan manusia dan hukum-hukum tersebut tidak akan pernah mengalami perubahan dan renovasi. Bahkan hukum-hukum tersebut adalah kekal dan abadi hingga hari kiamat.

dan ada 7 aliran Syi'ah lainnya akan tetapi tidak begitu banyak pengikutnya, yaitu
4. Syi'ah Gulat adalah kelompok syiah yang difatwa sesat, karena mereka secara jelas mengatakan Ali bin Abi Thalib adalah Tuhan, bahkan al Jahd mengatakan ruh Allah adalah ruh Ali bin Abi Thalib.
5. Syi'ah kaisaniyah yang pengikutnya membaiat Muhammad bin Ali atau Muhammad bin Muafiyah sebagai Imam Mahdi yang akan muncul kembali di akhir zaman
6. Syi'ah Rafidlah, yang juga dianggap sesat karena terkenal sebagai kelompok yang ekstrim dalam mencela sahabat dan Aisyah ra. Bahkan, kelompok ini hampir mirip dengan aliran Syi'ah Nazariyyah yang merupakan pecahan dari Syi'ah Ismailiyah, yang menghalalkan darah sesama muslim yang diluar Syi'ah. Sehingga kelompok Syi'ah Rafidlah ini terkenal dengan kekejamannya membantai ummat islam beraliran Sunni di Irak.
7. Syi'ah Mu'tadilah adalah kelompok Syi'ah yang tidak berkeyakinan Ghulat dan tidak bersikap seperti kelompok Syi'ah Rafidlah. Mereka hanya mendukung/mengutamakan Ali ra saja di atas sahabat yang lain, dan lebih mengedapankan riwayat ahlulbait daripada riwayat yang lain, secara zahir mereka tetap menghormati para sahabat Nabi saw., sedang batinnya hanya Allah Swt. Yang Mahatahu, hanya saja mereka tidak segan-segan mengajukan kritik terhadap sejumlah sahabat secara ilmiah dan elegan.
8. Syi’ah Almukhlasin Yaitu sekolompok siyi’ah yang pada waktu Ali bin Abi Thalaib RA menjadi khalifah sudah ada. Mereka terdiri dari nuhajirin dan Anshar yang mendukung Ali bin Abi Thalib sebagai khlifah. Mereka tidak mengkafirkan, mencaci, menghina dan membenci shahabat, mereka juga berpegang teguh dengan ajaran Allah dan rasulnya.
9. Syi’ah Tafdliliyah adalah kelompok yang sepenuhnya mendukung Khalifah Ali bin Abi Thalaib sebagai khlifah, melebihi sahabat lainnya. Mereka mengkafirkan, mencaci, menghina dan membenci shahabat nabi SAW. Seperti Umar dan Utsman Bin Affan.
10. Syi’ah As-Saba’iyah. Kelompok Syi’ah ini disebut juga syi’ah at-Tabriyah. Syi’ah inilah mengkafirkan, mencaci, menghina dan membenci shahabat nabi SAW. Seperti Umar dan Utsman Bin Affan. Mereka berlebihan memuji, membela dan menganggap Ali Bin Abi Thalib adalah nabi dan bahkan ada yang menganggap Ali adalah Tuhan, seperti Abdullah bi Saba’ yahudi teluen yang membidani berdirinya kelompok syi’ah Saba’iyah. Para pengikut Saba'iyah yang sudah melenceng ini diperangi oleh Ali sendiri. Tetapi sayangnya Abdullah bin saba' berhasil melarikan diri ke Mesir dan melanjutkan provokasinya dan mendalangi kematian Utsman bin Affan sehingga memicu perpecahan ummat islam semakin besar.
11. Syiah Qaramithah, yaitu Syiah yang sering menafsirkan Alquran sesuka hatinya. Mereka mengatakan bahwa malaikat adalah muballig mereka dan Syaitan adalah musuh mereka, yang dinamakan sembahyang adalah mengikuti mereka, haji adalah adalah ziarah kepada imam, puasa ialah tidak membuka rahasia imam.

KEDUDUKAN SAHABAT (AHLUL SUNNAH) DAN KELUARGA (AHLUK BAYT) DIMATA RASUL

Yang menjadi perbedaan antara Sunni dan Syi'ah pada awalnya hanyalah pada permasalahan politik yaitu mengenai tampuk kepemimpinan (khalifah) ummat islam setelah meninggalnya Rasulullah. Yang dimana kelompok Sunni berpendapat, bahwa tampuk kepemimpinan dipegang oleh para sahabat dekat Rasul yaitu Abu bakar, Umar bin khattab, Utsman bin affan (Ahlul Sunnah). Sedangkan kelompok Syi'ah berpendapat, bahwa tampuk kepemimpinan rasul sepantasnya diteruskan oleh keluarga dan keturunan beliau yaitu Ali bin abi thalib (sahabat sekaligus menantu rasul), Hasan dan Husein dan keturunannya (Ahlul Bayt).

Akan tetapi, perlu digarisbawahi, pada awalnya walau kelompok Sunni memilih kepemimpinan Ahlul Sunnah, akan tetapi mereka tidaklah mencela keluarga Rasul dan keturunannya. Dan begitu juga dengan kelompok Syi'ah, walau mereka mendukung Ahlul Bayt, akan tetapi mereka tidak mencela para sahabat. Akan tetapi, semenjak fitnah yang dilancarkan oleh Abdullah bin saba', sehingga memecahbelahkan antara kelompok Sunni dan Syi'ah, tak jarang mereka saling menghina satu sama lainnya bahkan menghina para sahabat dan keluarga rasul.

Kelompok2 ekstrim inilah yang mengaku mencintai rasul, tetapi menghina apa yang dicintai oleh Rasul. Karena baik kedudukan para sahabat dan keluarga rasul sama-sama mendapat kedudukan yang penting dan dimuliakan oleh rasul sendiri.

Sebagaimana kita ketahui, Rasul mempunyai banyak sahabat yang berjuang disisi beliau. Jika untuk jumlah, ada definisi yang dijabarkan oleh Abu Zur'ah Ar Razi tentang jumlah orang yang tergolong sahabat Nabi:

شهد معه حجة الوداع أربعون ألفاً، وكان معه بتبوك سبعون ألفاً، وقبض عليه الصلاة والسلام عن مائة ألف وأربعة عشر ألفاً من الصحابة

“Empat puluh ribu orang sahabat Nabi ikut berhaji wada bersama Rasulullah. Pada masa sebelumnya 70.000 orang sahabat Nabi ikut bersama Nabi dalam perang Tabuk. Dan ketika Rasulullah wafat, ada sejumlah 114.000 orang sahabat Nabi" (Al Ba’its Al Hatsits (1/25)

Selain itu, ada dua pendapat mengenai definisi dari kata sahabat Rasul ini:
1. Sahabat semuanya adil dan mereka adalah para mujtahid. Ini adalah pendapat Ahlul Sunnah wal-Jama'ah.
2. Sahabat seperti orang lain, ada yang adil dan ada yang fasiq karena mereka dinilai berdasarkan perbuatan mereka. Justru itu yang baik diberi ganjaran karena kebaikannya. Sebaliknya yang jahat dibalas dengan kejahatannya. Ini adalah pendapat mazhab AhlulBait Rasulullah saw./Syi'ah/Imam Dua belas.

Dan untuk para sahabat tersebut, rasul sendiri memuji mereka

لا تزالون بخير ما دام فيكم من رآني وصاحبني ومن رأى من رآني ومن رأى من رأى من رآني

“Kebaikan akan tetap ada selama diantara kalian ada orang yang pernah melihatku dan para sahabatku, dan orang yang pernah melihat para sahabatku (tabi’in) dan orang yang pernah melihat orang yang melihat sahabatku (tabi’ut tabi’in)"

Akan tetapi, dari puluhan ribu para sahabat Rasul yang dikatakan sebagai manusia yang terbaik pada zamannya tersebut, ada 4 sahabat utama yang sangat dicintai dan dipercayai oleh Rasul. Dan untuk mereka, Rasul sendiri mempunyai pujian khusus yang mencerminkan kedudukan mereka dimuliaan dan dicintai oleh Rasul. Yaitu, Abu Bakar, Ummar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib.

Kecintaan Rasul kepada para sahabat utama beliau bisa kita lihat dengan pujian yang diberikan beliau kepada para sahabat yang dicintainya. Seperti kepada Abu Bakar, Rasul pernah memuliakannya karena sifat keadilan, kebenaran dan dermawan yang dimiliki Abu Bakar. "Andaikata kualitas keimanan Abu Bakar dan manusia sejagad ditimbang, tentu akan lebih berat kualitas keimanan Abu Bakar." Selain itu, beliau memberikan julukan Ash Shiddiq (artinya 'yang berkata benar') kepada Abu Bakar yang akhirnya orang-orangpun memanggil beliau dengan nama Abu Bakar Ash Shiddiq. Dan Rasulullah pun pernah bersabda,


“Sesungguhnya orang yang paling berjasa kepadaku dengan ikatan persahabatan dan dukungan hartanya adalah Abu Bakar. Seandainya aku boleh mengangkat seorang Khalil -kekasih terdekat- selain Rabb-ku niscaya akan aku jadikan Abu Bakar sebagai Khalil-ku. Namun, cukuplah -antara aku dengan Abu Bakar- ikatan persaudaraan dan saling mencintai karena Islam. Dan tidak boleh ada satu pun pintu yang tersisa di [dinding] masjid ini kecuali pintu Abu Bakar.” Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya, di Kitab Fadha’il ash-Shahabah

Dan kepada Umar, Rasul memuliakan akhlaknya yang tegas dan keberaniannya membela agama Allah dengan perkataan. "jika kalian menjadikan Umar sebagai pemimpin, kalian akan menemukan dia seorang yang kuat, amanah, berjihad di jalan Allah, dan tidak takut celaan orang yang suka mencela."

Dan Utsman bin Affan yang mendapat perlakuan khusus dan dimuliakan oleh Rasulullah dikarenakan sifatnya yang pemalu dan perilakunya yang penuh adab dan kesopanan. Diriwayatkan Aisyah bertanya kepada Rasulullah Saw, "Abu Bakar masuk tapi engkau biasa saja dan tidak memberi perhatian khusus, lalu Umar masuk engkau pun biasa saja dan tidak memberi perhatian khusus. Akan tetapi ketika Utsman masuk engkau terus duduk dan membetulkan pakaian, mengapa?’ Rasullullah menjawab, “Apakah aku tidak malu terhadap orang yang malaikat saja malu kepadanya?”

Ketiga sahabat ini dipuji oleh Rasul dengan perkataan, "Yang paling penyayang di antara kalian dialah Abu Bakar, yang paling keras dalam agama Allah SWT dialah Umar, dan yang paling besar rasa malu nya dialah Utsman"

Dan kepada Ali, sahabat nabi paling muda usianya dan sekaligus sepupu dan menantu beliau. Rasul memuliakan kepribadian Ali yang cerdas, pintar, jenius dan energetik. Ia menguasai banyak ilmu, seperti fikih, hisab, zuhud, tasawuf, ilmu kalam, dll. beliau juga selalu menjadi rujukan khalifah-khalifah sebelum dirinya untuk menetapkan hukum terutama Umar, yang sering meminta pendapat Ali dalam mengambil keputusan. Kecerdasan Ali ini dipuji oleh Rasul, "jika aku ini adalah kota ilmu, maka Ali adalah pintu gerbangnya".

Dan bahkan Ali pernah ditunjuk Rasul untuk membawa bendera panji Islam diperang Badar disaat usianya masih terhitung sangat muda. Dikala ummat islam terdesak dengan jumlah musuh yang 10x lipat lebih banyak, Ali terus berjuang dan maju digaris terdepan tanpa gentar. Semangat dan perjuangan Ali inilah yang akhirnya menyatukan kembali semangat para pejuang dan mengantarkan mereka kepada kemenangan. Dan begitu pula disaat perang Uhud dan perang Khandak (Ahzab), Ali telah membuktikan kecintaannya untuk memperjuangkan agama Allah dan pembelaannya kepada Rasulullah. Sehingga Rasul pernah bersabda,
"peperangan Ali dengan ‘Amr lebih utama dari amalan umatku hingga hari kiamat kelak",

Ketika Ali berhadapan dengan Amr bin Abdi wud, seorang pemimpin pasukan dari pihak musuh yang terkenal keperkasaannya. Dan Ali berhasil mengalahkan Amr didalam perang Khandak tsb. Dan juga peristiwa penaklukan benteng Khaibar, yang dimana Abu bakar dan Umar sekalipun tidak bisa menaklukkan benteng Khaibar, Ali akhirnya berhasil membawakan kemenangan setelah kepemimpinan diserahkan ke tangan Ali.

Masih banyak kemuliaan para sahabat yang dipuji langsung oleh Rasulullah. Oleh karena itu, Rasul sendiri mengecam orang-orang yang mencela dan menghinakan para sahabatnya.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

لا تسبوا أصحابي ، فلو أن أحدكم أنفق مثل أحد ذهبا ، ما بلغ مد أحدهم ولا نصيف


“Jangan engkau cela sahabatku, andai ada diantara kalian yang berinfaq emas sebesar gunung Uhud, tetap tidak akan bisa menyamai pahala infaq sahabatku yang hanya satu mud (satu genggam), bahkan tidak menyamai setengahnya” (HR. Bukhari no. 3673, Muslim no. 2540)

Selain kecintaan beliau terhadap para sahabatnya, Rasulullah sangat mencintai keluarga dan keturunan beliau. Seperti sabda Rasul. "Rasulullah saw. bersabda "Siapa menyakiti Fatimah, dia menyakitiku, dan siapa menyakitiku, dia menyakiti Allah" "Siapa menyakiti Ali, sesungguhnya dia menyakitiku, dan siapa yang menyakitiku, dia menyakiti Allah" "al-Hasan dan al-Husain kedua-dua mereka adalah pemuda Syurga" (al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi' al-Mawaddah, hlm. 129-131 dan lain-lain).

Dan juga wasiat beliau kepada ummat islam,
"Kutinggalkan di tengah kalian dua peninggalanku: Kitabullah, sebagai tali yang terentang dari langit sampai ke bumi, dan keturunanku, ahlul baytku. Dua-duanya itu sungguh tidak akan terpisah hingga saat kembali kepadaku di haudh (telaga di surga)."


Jadi sudah jelas, kedudukan para sahabat terutama Abu Bakar, Umar Bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib dengan kedudukan keluarga dan keturunan Rasul yaitu Ali bin Abi Thalib, Fatimah RA, al Hasan dan al Husein dihati Rasul. Baik ahlul sunnah dan ahlul bayt beserta istri-istri rasul lainnya, mempunyai tempat yang mulia dan kecintaan istimewa terhadap mereka. Akankah pantas kita untuk mencela dan menghina salah satu darinya?


"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu itu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat ." (Q.S. Al-Hujurat : 10 )


sumber lainnya - http://news.okezone.com/read/2012/01/01/337/550019/mui-pusat-syiah-tidak-sesat
                       - http://www.lastiko.web.id/2011/01/sejarah-ringkas-perang-jamal-antara-ali.html
                       - http://www.al-shia.org/html/id/shia/moarrefi/3.htm
                       - http://www.surgamakalah.com/2010/12/syiah.html
                       - http://tazhimussunnah.com/buletin/82-mengenal-tentang-syiah-rafidhah.html
                       - http://wahanakreasi4.blogspot.com/2010/12/syiah-sabaiyah-dan-syiah-ghulat.html
                       - http://ejajufri.wordpress.com/2010/02/19/sikap-fpi-terhadap-syiah-dan-wahabi/
                       - dan sumber lainnya

Selasa, 28 Februari 2012

Waspadai Nasi Goreng 'Maut'

Makin banyak aja akal para pedagang yang tidak jujur membohongi para pembelinya. Dimulai dari timbangan yang dikurangi, menjual ayam tiren, daging sapi gelonggongan, telur palsu, madu palsu dan masih banyak lainnya.

Kita yang hidup dijaman penuh kepalsuan ini harus dituntut untuk bisa cerdas dalam membedakan mana makanan yang layak dan mana yang tidak layak. Dahulu, Mia pernah membahas tentang berbagai makanan yang berbahaya (bisa dibaca disini) beserta tips-tips untuk memilih makanan yang baik (bisa baca disini), sekarang ini mau membahas tentang salah satu olahan makanan yang dijagokan para anak kostan selain mie, yaitu (jreng jreng jreeenggg) NASI GORENG *dg suara doraemon*

Jadi laper @@ (source: google)

Makanan satu ini memang sudah merakyat dimasyarakat Indonesia. Selain cara pembuatannya mudah, sederhana tapi mempunyai rasa yang enak dilidah (tergantung yg bkin :P) harganya juga termasuk hemat dikantong terutama dikantong para anak kostan dan bokekers, kecuali nasi goreng direstoran bintang lima tentunya (mangnya ada restoran bintang 5 jualan nasi goreng??)

Akan tetapi, walau ini termasuk salah satu makanan yg mudah dibikin selain bikin mie goreng, tetep aja penyakit 'malas' suka menghinggap dihati sanubari *hallaaaahhh* makanya jalan pintaspun ditempuh. Membelinya ke tukang nasi goreng (ya iyalah, masa ketukang jualan bahan bangunan)

Dan sayangnya, tidak semua tukang nasi goreng yang melakukan bisnis ini dengan jujur, penuh khidmat dan menjunjung tinggi nilai2 pancasila terutama sila ketuhanan yang maha esa dan sila kemanusiaan yang adil dan beradab. Buktinya, para oknum curang ini sungguh tidak takut dengan hukuman tuhan dan sungguh tidak beradab, dengan tega sekali meracuni konsumennya dengan mencampurkan bahan-bahan berbahaya. Penasaran? mari kita ulik proses pembuatan nasi goreng berbahaya ini hasil dr reportase investigasi di Trans TV:

1. Menggunakan nasi bekas/sisa katering

 Pelaku membeli nasi bekas katering yang tersisa (ya iyalah, kalo ngga sisa bukan bekas namanya). Lalu nasi bekas ini ditambah dengan bumbu2 lainnya seperti bawang, cabe, kecap, penyedap rasa and viola!! jadilah nasi goreng siap santap.

2. Memakai ayam tiren.
Nasih goreng akan bertambah nikmat jika dicampurkan dengan daging, seperti daging sapi (bakso), sosis, ataupun daging ayam. Biasanya ayam yang menjadi pilihan para pedagang sebagai temannya nasi goreng, karena aroma daging ayam membawa rasa gurih yang khas bagi nasi goreng. Akan tetapi, sayangnya para pedagang nakal ini demi meraup untung lebih banyak dengan modal semurah mungkin, mereka pun memakai ayam tiren yang harga jualnya lebih murah. Jika ayam segar dihargai dengan Rp. 25 rb/ekor, maka ayam tiren ini bisa didapat dengan harga Rp.15 rb/ekor. Dan tentu saja tiren ini diduetkan pengolahannya dengan boraks agar bau bangkai busuk dari ayam bisa tersamarkan dan tampilan dagingnyapun lebih bagus.

3. Marus (hati palsu)
Selain berbahan baku ayam, hati ayam atau hati sapipun menjadi pilihan para pedagang untuk menyempurnakan kelezatan nasi goreng. Sayangnya, hati ayam/sapi inipun palsu yang terbuat dari darah sapi yang mengalir yang dibekukan. Darah yang dibekukan ini akan berubah seperti daging lembek dan kental, menyerupai daging hati ayam/sapi yang masih mentah. Yang kemudian dipotong2 dadu.

Bahan-bahan nasi goreng diatas tentu haram didalam hukum islam. Karena dalam islam, diharamkan untuk memakan bangkai hewan/mati yang tidak dengan disembelih. Dan juga haram untuk memakan darah. Selain itu, disegi kesehatan juga bahan-bahan tersebut dapat mengundang penyakit seperti diare, desentri, keracunan dll. Karena, terdapatnya jutaan kandungan bakteri dan jamur didalam nasi sisa yang mungkin sudah kotor, daging bangkai ayam tiren dan darah sapi yang dibekukan, dimana bakteri2 tsb tidak akan dapat mati secara sempurna walau sudah mengalami proses pemanasan dengan cara digoreng.

Trus, gimana dong caranya buat bedain mana nasi goreng yang aman dan yang berbahaya?

Unfortunatelly guys, nasi goreng berbahaya dan aman ini hampir susah untuk dibedakan. Kecuali dibagian hatinya. hati ayam asli, walau sudah dimasak dengan cara direbus/goreng, warna kecoklatan yang pekat hanya terlihat diluarnya saja, sedangkan daging dibagian dalamnya tetap berwarna coklat yang lebih pucat. sedangkan hati ayam palsu yang dari hasil pembekuan darah sapi (marus), warna luar dalamnya sama2 coklat kemerahan/pekat. Sayangnya untuk hati sapi, tekstur hati lebih padat dan tidak selembek marus. Dan bau amis marus juga lebih terasa dibandingkan hati yang asli.

Untuk lebih sehatnya, lebih baik kita bikin nasi gorengnya sendiri. Jadi lebih terjamin kesehatannya dan terhindar dari bahaya dari nasi goreng pembawa maut ini^^